Senin, 16 Oktober 2017

Analisis Puisi Rumahku


Rumahku
Karya: Chairil Anwar
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar sengaja nampak
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Dipagi terbang entah kemana
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Disini aku berbini dan beranak
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu
Makna :
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar sengaja Nampak
Penyair menganggap bahwa rumah itu seperti api unggun yang dibuat dari kayu dan ranting untuk mengusir dinginnya malam. Api unggun yang hanya bersifat sementara memiliki usia yang singkat. Hadirnya api unggun cukup mengusir dinginnya malam, sebelum berharap pagi datang dengan cahaya mentari. Seperti itulah makna dari sebuah sajak, petuah, cerita dan kata yang tidak akan bertahan lama serta tak dapat mengubah rupa diri dan dunia. Peristiwa di dalam rumah yang selalu nampak jelas, peristiwa berbicara dan makna dari kata berbicara dengan sendirinya.
Kulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak dapat jalan
Kemah kudirikan ketika senjakala
Dipagi terbang entah kemana
Penyair  mencoba menggambarkan pencarian suasana baru dan dunia baru di luar rumah, tetapi arahpun tak dapat ditemukan sampai bertemu pada titik kerentaan penyair menyadari makna hidup. Dalam sajak “dipagi entah kemana” menggambarkan masa muda yang terlalu sibuk dengan kefanaan serta di isi dengan segala hal yang sia-sia.
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Disini aku berbini dan beranak
Rumah seperti timbunan api unggun yang dapat mengusir dinginnya malam, keluarga tempat bernaung berbagi kisah, nasihat, cerita tentang kehidupan serta tempat bersatu bersama istri dan anak.
Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu
Ingin menghabiskan masa tua bersama keluarga karena dimasa muda penyair menggambarkan bahwa dirinya mencoba berlari dari kehidupan keluarga yang begitu berarti, namun usia sudah menjemput diri semakin tua renta. Dalam baris puisi ini seolah penyair ingin terus hidup, merayu Tuhan untuk selalu panjang umur hingga tidak lagi meraih petang/ kesalahan dalam hidupnya dapat diperbaiki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar